30 November 2009

Pesta Penyair Nusantara Kuala Lumpur

Fakhrunas MA. Jabbar (Penyair asal Riau) berbincang serius dengan Isbedi Stiawan. ZS (Penyair asal Lampung)

Anto Narasoma (Penyair asal Palembang) dalam acara diskusi Forum Penyair


A. Rahim Qahar (Penyair asal Medan) dan Anwar Putra Bayu (Penyair asal Palembang) di warung kopi orang Melayu, KL.

Anwar Putra Bayu di kantor Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur


Foto bersama di Jalan Dewan Bahasa





13 November 2009

Pertemuan Penyair Nusantara Kuala Lumpur 2009

PERTEMUAN PENYAIR NUSANTARA KE-3
NUSANTARA POETRY GATHERING 2009




PENGENALAN

PENA menganjurkan Pertemuan Penyair Nusantara ke-3 (PPN3) dengan kerjasama Jabatan Kebudayaan dan Kesenian Negara (JKKN), Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP), dan Institut Terjemahan Negara Malaysia (ITNM).

Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) ini bermula di Medan pada tahun 2007 dengan nama Pesta Penyair Nusantara sebagai usaha untuk menghimpunkan penyair dari rantau Asia Tenggara khususnya, dan dari seluruh dunia umumnya. Acara ini diasaskan oleh badan budaya bukan kerajaan, iaitu komuniti penyair di Indonesia dan kemudian berkembang dengan disertai oleh komuniti sastera dan budaya dari Malaysia dan Brunei.

Gabungan komuniti penyair dari Indonesia, Malaysia dan Brunei ini akhirnya telah menubuhkan Panitia Rasmi Pesta Penyair Nusantara. Persetujuan yang dicapai dalam mesyuarat di Medan adalah untuk mengadakan acara ini pada setiap tahun secara bergiliran. Bermula di Medan, Indonesia dengan The First Medan Poetry Gathering 2007 pada 25-29 Mei 2007, ia kemudian dilanjutkan dengan Pesta Penyair Nusantara Kedua (PPN2) (The 2nd Kediri Poetry Gathering) pada 29 Jun - 3 Julai 2008 di Kota Kediri, Indonesia. Pada tahun 2009, PENA telah dipilih untuk menjadi tuan rumah dengan nama Pertemuan Penyair Nusantara ke-3 (PPN3).

TEMA
PUISI SUARA KEMANUSIAAN

KONSEP
Menggabungkan seni dan fikiran kemanusiaan melalui sesi forum, dialog, seminar dan persidangan selain acara pendeklamasian puisi dan persembahan kebudayaan.

MATLAMAT
1. Menggerakkan sastera khususnya dalam kelompok generasi muda.
2. Mempererat hubungan antara sasterawan tanpa mengira sempadan.
3. Menjadikan budaya sebagai medium pembina nilai kemanusiaan dan kebersamaan.
4. Mengeratkan hubungan serantau khususnya dalam bidang kebudayaan.

TARIKH
20-22 November 2009

TEMPAT
Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur & Rumah PENA

JADUAL ATUR CARA

Hari PERTAMA (Jumaat 20 November 2009)
PAGI
12.00 tgh – 2.30 ptg : Pendaftaran Peserta
2.30 tgh – 4.30 ptg : Forum Penyair: Puisi Mancanegara
(Malaysia, Indonesia, Brunei, Singapura, Thailand)

MALAM
8.45 mlm – 11.00 mlm: ACARA PERASMIAN
Ucapan Sambutan
Ucapan dan Perasmian
Perasmian buku puisi Suara Kemanusiaan Nusantara
Penyampaian Cenderahati kepada:
(Para Wakil Penaja, Perwakilan Negara Peserta)
Jamuan Makan Malam & Persembahan Baca Puisi

Hari KEDUA (Sabtu 21 November 2009)
PAGI
8.30 pagi–10.30 pagi : Ucap Utama
10.30 pagi : Jamuan Teh
10.45 pagi–1.15 tgh : Pembentangan Kertas Kerja:
(Malaysia, Indonesia, Brunei, Singapura,Thailand)
1.00 tgh –2.30 ptg : Makan Tengah Hari
2.30 ptg – 6.30 ptg : BACA PUISI DI MENARA KUALA LUMPUR
6.30 ptg : Jamuan teh dan makan malam (di Rumah PENA)
MALAM : PERSEMBAHAN & BACA PUISI DI RUMAH PENA
Hari KETIGA (Ahad 22 November 2009)
PAGI
8.30 pagi–10.30 pagi : Persidangan Penyair:
Kerjasama Penyair dalam Mengataskan Suara Kemanusiaan
10.30 pagi : Jamuan Teh
10.45 pagi–12.30 tgh : Majlis Penutup:
12.30 tgh – 1.30 tgh : Makan Tengah hari
1.30 tgh : PESERTA BERTOLAK PULANG

Yuran penyertaan : RM20.00 (dibayar pada masa pendaftaran)
Penginapan dan pengangkutan peserta Dalam Negara diuruskan sendiri;
Hotel berdekatan:
Hotel Mirama : 03-2148 9122
Hotel Mandarain Court: 03-2273 9933

Peserta Luar Negara termasuk Sabah dan Sarawak disediakan penginapan di Rumah PUSPANITA

12 November 2009

Workshop ANTARA: Menulis Cerpen Janjikan Pendapatan

Palembang (ANTARA News) - Menjadi seorang penulis cerita pendek (cerpen) di media massa, dapat menghasilkan suatu pendapatan yang tergolong besar, kata sastrawan dan cerpenis asal Sumatra Selatan (Sumsel).

Menurut sastrawan Sumsel itu, Anwar Putra Bayu, dalam Lokakarya Menulis Cerpen di Media Massa kerja sama LKBN ANTARA Biro Sumsel dan Universitas Bina Darma (UBD), didukung pula oleh PT Medco E&P Indonesia, di Palembang, Sumsel, bahwa profesi sebagai penulis cerpen tetap menjanjikan kesejahteraan yang baik.

"Mungkin sebagian orang tidak percaya bahwa menjadi seorang penulis cerpen itu bisa memperoleh pendapatan yang sangat menjanjikan, karena dapat menghasilkan pendapatan yang besar," ujar Anwar yang juga dosen luar biasa di UBD Palembang itu.

Satu cerpen yang terbit di sebuah harian umum nasional, pasti mendapatkan nilai royalti yang setimpal antara Rp1 juta hingga Rp5 juta per tulisan, tergantung dengan media massa yang menerbitkannya, ujar dia lagi.

Namun, dia tak membantah adalah tak mudah suatu cerpen dapat terbit di media massa, apalagi media nasional yang besar, karena media cetak tersebut memiliki aturan dan persyaratan tersendiri yang terbilang ketat.

"Jangan heran, terkadang seorang cerpenis sampai ratusan kali mengirimkan cerpennya ke sebuah media massa agar lolos dan dapat diterbitkan. Butuh sebuah pengorbanan untuk tidak pernah menyerah," kata dia pula.

Dia mengemukakan, berdasarkan pengalaman pribadinya saat memulai karir sebagai seorang cerpenis di Palembang.

"Setiap mengirimkan hasil karya cerpen, selalu ditolak. Lama kelamaan saya menemukan titik kesalahan bagaimana menulis cerpen di media massa itu, dan akhirnya cerpen bisa diterbitkan," kata dia.

Menurut dia, seorang cerpenis bisa lahir dan tercipta melalui proses belajar, bukan hanya mengandalkan bakat semata.

"Jika ingin menjadi cerpenis harus berlatih terus menerus, bagaimana memulai menulis cerpen, bagaimana memilih kata-kata yang tepat, hingga bagaimana membuat hasil karya yang dipandang layak untuk diterbitkan pada media massa," kata pria kelahiran Medan, 14 Juni 1960 itu pula.

Dia menambahkan, tahap pembelajaran dalam menulis cerpen dapat dimulai dengan menuliskan apa yang dirasakan setiap hari pada "diary" (catatan harian, Red) atau blog pribadi.

Akhir-akhir ini perkembangan penulisan cerpen di Indonesia semakin subur. Hal ini ditandai dengan pesatnya pemuatan dan penerbitan cerpen di media massa, ujar Anwar.

Artinya, jangan takut untuk menjadi seorang cerpenis, mulailah dengan menulis di sebuah blogger, dan teruslah belajar serta berlatih, demikian Anwar Putra Bayu.

Dalam lokakarya itu, dihadirkan dua sastrawan, selain Anwar Putra Bayu dari Sumsel, juga Isbedy Stiawan ZS, sastrawan yang dijuluki almarhum HB Jassin sebagai "Paus" Sastra Lampung.

Peserta lokakarya mencapai 150-an orang, terdiri para mahasiswa, guru/pendidik, dan kalangan masyarakat umum.(*)

18 September 2009

Saatnya Membuka Pintu Maaf



Anwar Putra Bayu dan keluarga


Mengucapkan Selamat Idul Fitri 1430 H.

Mohon maaf lahir batin.

Semoga kita saling memaafkan.

Palembang, September 2009

Anwar Putra Bayu dan Keluarga

31 Agustus 2009

Tak Diam Lagi, Suara Kami Kembali

/Mutiah Ayu Rasta/

ah kami cuma bisa diam seperti dinding kamar kami yang menyaksikan debur ombak meraung lalu pecah bersama diam kami. Bertahun-tahun diam menua sendiri, bukan karena kami: tapi karena diam kami yang berbongkah-bongkah bertapa di mulut kami.

setelah diam berjumpa pada waktu yang lama, asin yang bermuara di lautnya yang panjang telah kembali kepada mulut kami yang kemudian memberi kami potongan-potongan kata yang akhirnya memberi suara pada diam kami.

lalu kami pungut lagi setelah kata-kata meluncur dari mulut kami, dari diam kami, supaya jangan habis asin yang telah kembali, yang setelah pulangnya dari laut yang panjang, bergelut dengan ombak; bergelut dengan badan-badan ikan, lalu akhirnya pecah di mulut kami.

suara kami telah kembali, setelah menahan senyap-sepi pada malam-malam ganjil dan bersama dinginnya yang gigil, pun anginnya yang telah sampai di menara paling tinggi, menggiring asin kami, tertuju pada mulut kami. Kami tak lagi diam seperti dinding kamar. Kami punya suara, dan suara kami pada akhirnya meraungkan sepi supaya pecah. Sesudahnya kami tak diam lagi.



2009

15 Juni 2009

Perempuan Gerabah atawa Ritus Kawin Tanah Tampil di Graha Budaya


Setelah pertunjukan dari CCL Bandung, (24/06) di gelar di Graha Budaya, Jakabaring, maka Teater Studio Indonesia bekerja sama Teater Alam yang didukung oleh Dewan Kesenian Sumatera Selatan dan Federasi Teater Sumatera Selatan akan mementaskan Perempuan Gerabah atawa Ritus Kawin Tanah karya dan sutradara Nandang Aradea selama dua hari 26 dan 27 Juni, pukul 14.00.

Perempuan Gerabah ini menurut Nandang Aradea pernah dipentaskan di Serang, Surabaya, dan Jakarta dalam event Biennale Teater. Pentas keliling Perempuan Gerabah ini, selain Palembang juga dilaksanakan di Metro (Lampung) sebagai bagian pertunjukan keliling Teater Studio Indonesia ke daerah Sumbagsel yang sponsori oleh Hivos.

Pertunjukan Teater Studio Indonesia akan mengetengahkan narasi tentang keberadaan manusia sekarang, yang merupakan sebuah personifikasi tentang “membangun dan menghancurkan”, sebagaimana gambaran kehidupan manusia saat ini di mana kita hidup di dunia yang berantakkan dan berkeping-keping. Manusia dengan susah payah membangun dunia (Gerabah sebagai analogi), dan setelah jadi bentuk, manusia merayakannya, membanggakannya, tapi dikemudian hari dunia itu jadi tak berharga, retak, pecah, diinjak-injak kaki sendiri dengan entah harus sakit entah harus bahagia.

Demikianlah manusia modern sebuah personifikasi seperti perempuan membuat gerabah membangun- menghancurkan, membangun – menghancurkan, demikian seterusnya. Hal ini mengingatkan kita tentang hukuman yang dialami oleh Sysipus.

Pertunjukan Teater Studio Indonesia ini nantinya lebih memilih narasi gambar, sehingga penonton akan mendapatkan kesan visual secara simbolik, metaforik, dan asosiatif. TSI sepertinya tidak meyakini kata karena kata-kata kian polutif oleh janji-janji palsu dan sumpah serapah. Selain kekuatan visual, pertunjukan tersebut menumpu pada kesadaran perkusi yang musikal yang dihasilkan dari bunyi gerabah itu sendiri. Jadi untuk berkomunikasi narasi Perempuan Gerabah membuat bahasa-bahasa baru, konvensi-konvensi baru dengan penontonnya.

Di beberapa pertunjukan sebelumnya, di Jakarta dalam even Biennale Teater misalnya, STI melakukan visualisasinya dengan konsep membangun ruang dalam panggung Perempuan Gerabah dengan kontruksi bambu yang menyerupai abstraksi jambangan atau gentong yang terbuat dari bambu dengan diameter lingkaran tengah 8 meter dengan tinggi panggung 10 meter. Stage area dalam abstraksi itu terdiri dari panggung lingkar dengan diameter 3,8 meter dan dapat berputar secara motorik menyerupai alat pembuat gerabah (perabot) dan penonton duduk berumpak melingkar. Penonton dan pemain dikondisikan terikat dan dekat, diancam dan dirindukan, untuk bersikap kritis dan beralienasi. Akan tetapi, di Graha Budaya nantinya Perempuan Gerabah mungkin akan berjarak dengan penonton karena akan menggunakan konsep pertunjukan proscenium (in door:di dalam gedung).

Pertunjukan yang berlangsung 70 menit itu akan didukung oleh enam aktor yakni, Taufik P. Pamungkas, Farid Ibnu Wahid, Suryadi Sally Al-Faqir, Arip Fr, Desi Indriyani dan Mak Maryamah. Pertunjukan TSI tak lebih merupakan hasil proses panjang dengan eksplorasi pendektan-pendekatan miraga rasa, sebuah pendekatan pemanusiaan tubuh yang sudah tergerus oleh tradisi mesin.

Perempuan Gerabah yang diusung oleh Teater Studio Indonesia merupakan kerja dari sebuah kelompok teater yang metode-metode kerjanya berbasis pada riset dan konsep-konsep lab teater studio, yakni teater yang membangun ruang, teater yang menginterupsi dan lebur dalam persoalan-persoalan sosial. (Anwar Putra Bayu)

10 Juni 2009

CCL Bandung Pentas di Palembang


Air dan Kolaborasi

Dalam bulan Juni 2009 ini, gedung pertunjukan Graha Budaya, Taman Budaya Jakabaring bakal diwarnai dua pertunjukan dari luar Sumatera Selatan, yakni CCL (Celah-Celah Langit) dari Bandung, dan STI (Studio Teater Indonesia) dari Banten.

Diawali dengan pertunjukan dari CCL Bandung, pada Rabu (24/06) mendatang akan menyajikan naskah Air dengan sutradara Iman Soleh. Naskah ini ditulis bersama dengan persepsi yang awalnya disamakan, yakni mengenai alam. Segenap perasaan dan pikiran, yang pada gilirannya terbangun dialektika. Kecemasan, kegelisahan, keinginan untuk bicara kemudian berakumulasi menjadi teks AIR.

Pertunjukan Air yang melibatkan lebih kurang 20 orang personel pemain dan pendukung yang terdiri dari Nelly, Hanny, Neni, El Gasssani, Gusjur Mahesa, Ape, Harry Pangabdian Maulana Yusuf, Ferry Sandi, Dedi Warsana, Adji Sangiadji, Ipung, Edi Sound, Imam Suryantoko, eki, Bambang Tanu, abu dzal algifari dan Gusjur Mahesa (asstrada), Candra Wardani (koreografi), Iep Kendang, Tato, Isep (musik), Yadi Mulyadi, Bayu (multimedia), Dea, Tisna Sanjaya (artistik), dan Alwin (penata cahaya), akan dikemas menjadi sebuah kolabarorasi.

Itu sebabnya kata Iman Soleh, bahwa pertunjukan CCL berawal dari riset beberapa seniman pada masalah lingkungan yang ditafsirkan dalam randai seni (teks naskah, akting, tari, seni rupa, multy media dan musik). Iman Soleh berpandangan bahwa di antara seniman atau siapa pun demikian kontekstual dengan persoalan-persoalan lingkungan. Kesenian misalnya, terutama tradisi, selalu berangkat dari lingkungan, persoalan alam, baik sebagai rasa sukur, selamatan, atau minimal sebuah kepedulian.

”Kearifan itu kami yakini pula, dan kami kolaborasikan dengan beberapa seniman, ada tari, aktor teater, pemusik, seni rupa, yang konsern dalam persoalan lingkungan, ” kata Iman Soleh.

Iman Soleh dan Lingkungan Hidup

Beberapa pertunjukan yang pernah dilakukannya sebagian besar memiliki nuansa lingkungan hidup. Persoalan ozon, air, pohon, sungai, dan sebagainya merupakan perhatian Iman Soleh secara serius. Sebagai seniman dia, dan juga kakaknya Tisna Sanjaya—seorang perupa—juga dikenal sebagai seorang aktivis lingkungan hidup. Iman dan Tisna sejak tahun 1990-an memang sudah konsern dalam gerakan lingkungan hidup.

Iman Soleh yang dilahirkan di Bandung tahun 1966 ini, sekarang tinggal dikomunitas kesenian CCL di Gang. Bpk. Eni No.8/ 169A Ledeng Bandung. Sejak tahun 1984 menekuni teater di berbagai kelompok baik di Bandung maupun di Jakarta. Studiklub Teater Bandung, Payung Hitam, Teater Kecil Arifin C Noer. Pernah berkeliling ke beberapa grup teater di Hokaido, Hiroshima, Kyoto dan Tokyo Jepang sejak tahun 1997 sampai 1998. Iman pernah juga di sutradarai oleh Takeshi Oshima di Jepang dalam sebuah kolaborasi dengan teater Philipina

Setelah itu dia bergabung dengan teater Talipot Perancis pada tahun 2000 sebagai asisten sutradara dan tinggal di Reunion Island Perancis, sebuah pulau kecil dekat Madagaskar untuk produksi L Porter d’au yang di pentaskan lebih dari sepuluh negara baik di Asia dan Eropa. Tahun 2002 dia mengikuti festival monolog Les Meteores di Hipodrome Perancis serta mengikuti berbagai workshop “Suara danTubuh” di Douai Perancis.

Semenjak terjun ke dunia teater Iman Soleh sudah bermain lebih dari 50 naskah teater. Terakhir dia di undang pementasan Air di forum World Performing Art di Lahore Pakistan tahun 2006 dan mengadakan pementasan keliling dengan Sidetrack teater di Darwin dan Sidney tahun 2007.

Sebagai sutradara Iman Soleh pernah mementaskan beberapa naskah drama seperti, Genderang di Malam Hari (1986), Pinangan (1987), Bui (1988), Jam Dinding yang Berdetak (1989), Penggali Intan (1995), Bila Malam Bertambah Malam (1996) Kidung Malam Tahun Baru (1996), Rumah yang Dikuburkan (1996), Waters Carrier (2001) Kala de la Feu ( 2001), Teroris (2002), Hukuman Mati (2003), Bedol Desa (2003), Ozone (2004), Kawin ya Kawin (2005), Air (2006), Tanggled Garden (2007) Passsage (2007), Art (2008), dan For the Good of the Games, (2008).

Komunitas CCL yang didirikannya itu merupakan ruang publik yang terletak di kawasan padat penduduk dengan mayoritas penghuninya adalah kaum urban. Tempat itu sangat strategis, di samping letaknya dekat dengan jalan protokol dan terminal Ledeng, juga satu area dengan beberapa perguruan tinggi di Bandung utara. Arena budaya itu telah berlangsung sejak tahun 1985, namun bernamakan komunitas CCL ( Celah Celah Langit) pada tanggal 22 mei 1998, di atas tanah 820 M2 dengan luas panggung 7 M X 12 M, menyerupai amphitheater, di kelilingi kamar - kamar kontrakan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, dengan kapasitas penonton 400 orang. Keunikan Komunitas CCL tersebut tampak egaliter, terbuka, yang dikelola oleh penduduk dan mahasiswa berbagai disiplin ilmu, dengan terlebih dahulu menyusuri gang sempit, menyerupai kebun yang rimbun, ada kandang ayam, bibit tanaman, dan lebih sebagai tempat anak-anak kampung bermain di sana. B

Bagi Komunitas CCL, kesenian tidak melulu sebagai eksplorasi estetik, namun dapat didekati sebagai pertukaran sosial (social exchange), silang budaya (cross culture) dengan mengutamakan penghargaan terhadap perbedaan sikap. Atas dasar pemikiran tersebut, Komunitas CCL berusaha melibatkan berbagai elemen masyarakat yang heterogen untuk lebur dalam setiap proses eksplorasi kesenian, sehingga kesenian tumbuh bersama masyarakat, dalam kesetaraan dan kemajemukan, baik pandangan, ideologi maupun kepercayaan. CCL berupaya menangkap perubahan (agent of change), memperluas sudut pandang masyarakat pada dunia (world view) dari berbagi faktor internal (indogenius) dan faktor eksternal (exogenius), mengupayakan berbagai nilai hadir, baik dalam negeri maupun luar negeri, di dalam pengucapan tradisional maupun kontemporer, sehinga mendorong masyarakat tumbuh arif pada komunikasi antar budaya, melakukan pengembangan kesadaran heterogenitas dalam dialektika kesenian.

Pertunjukan AIR yang hanya tampil sehari saja, diharapkan nantinya akan memberikan sesuatu hal yang baru dalam upaya “merangsang” kehidupan seni pertunjukan atau perteateran di Sumatera Selatan, khususnya di Palembang. Pertunjukan yang bekerja sama dengan Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS) ini merupakan serangkaian pertunjukan Iman Soleh keliling di tiga kota Sumbagsel, yakni Lampung, Palembang, dan Jambi.

Selain pertunjukan Air, sehari sebelumnya Selasa (23/06) akan diadakan workshop seni peran (keaktoran) yang diperuntukan untuk guru, mahasiswa, dan peminat teater. Workshop tersebut akan menampilkan Gusjur Mahesa dari Bengkel Teater Rendra, Dedi Warsana dari STB—keduanya kini aktif di CCL—dan Iman Soleh yang bertindak sebagai instruktur.
(Anwar Putra Bayu)