Indonesia
sekarang punya hari puisi Indonesia. Tahun 2017 ini, hari
puisi Indonesia sudah memasuki tahun ke lima sejak di deklarasikan oleh 40
penyair Indonesia di Pekanbaru, Riau, pada 15 November 2012. Dari deklarasi lima tahun lalu itu, setiap
daerah di Indonesia di imbau untuk menyelenggarakan hari puisi Indonesia, baik
itu secara besar-besaran maupun secara sederharna sekali pun.
“Silahkan bikin dan gerakkan kegiatan hari
puisi Indonesia di daerah masing-masing.” Imbau Rida L Kiamsi, salah seorang
inisiator deklarasi hari puisi Indonesia kepada para deklarator.
Toton Dai Permana |
Sebagai
salah seorang deklarator hari puisi Indonesia mewakili Sumatera Selatan, baru
tahun ke lima inilah saya baru bisa menyelenggarakan hari puisi Indonesia, yang
diawali Bincang-bincang dan Baca puisi dengan tema “Kehidupan Puisi Hari Ini”
di RRI Palembang Pro 2, pada Rabu, 26 Juli 2017 bertepatan dengan hari
kelahiran penyair besar Indonesia Chairil Anwar yang ditetapkan sebagai hari
puisi Indonesia sebagai penanda dan pembuka penyelenggaraan hari puisi
Indonesia di Palembang.
Rabu,
2 Agustus lalu di gedung galery Taman Budaya dipenuhi tak kurang seratus orang
undangan yang terdiri dari kepala Taman Budaya Sriwjaya, kepala Balai Bahasa
Sumsel, Kepala Bidang Siaran RRI Palembang, pemimpin redaksi Berita Pagi, pengarang, penyair, pelajar, mahasiswa,
wartawan, sutradara teater, guru, dosen, duta bahasa dan lain-lain. Mereka
secara bergilir satu per satu didaulat untuk membacakan puisi karya sendiri
atau pun orang lain. Acara yang dimulai pukul 14.00 sampai pukul 17.30 ini
diselenggarakan oleh Koalisi Masyarakat Puisi Palembang dan didukung oleh Taman
Budaya Sriwijaya, Balai Bahasa Sumsel, HISKI Sumsel, Berita Pagi, dan Dunkin
Donuts ini dibuka oleh koordinator Koalisi Masyarakat Puisi Palembang, Anwar
Putra Bayu dan dilanjutkan dengan pengantar yang disampaikan kepala Taman
Budaya Sriwijaya, Thonthowi Herijum Eka Permana.
Thonthowi Herijum Eka Permana atau lebih dikenal dengan nama Toton Dai
Pemana ini menyambut gembira dengan diselenggarakannya Hari Puisi Indonesia di
Taman Budaya Sriwijaya. Dia berharap agar para seniman di Palembang bisa
menggunakan Taman Budaya Sriwijaya untuk menggelar karya-karyanya.
“Taman Budaya Sriwijaya merupakan rumah seniman, jadi silahkan pulang untuk
membawa karya-karya ke rumahnya.” Ungkap Thontowi yang juga dikenal sebagai
penyair dan sutradara teater ini.
Acara Hari Puisi Indonesia 2017 ini
diawali dengan pembacaan puisi oleh penyair Toton Dai Permana dengan karyanya
berjudul “Biarkanlah”. Dengan suara teaterikalnya yang masih terjaga Toton
begitu kalem megucapkan kata demi
kata: Bungamu luka/melintasi
dahan/merindukan hujan. Lukamu bunga/kering dengan sendirinya/seperti takdir
sungai-sungai/mengalir/
Puisi tersebut terdiri dari empat bait, suasana puisi
begitu sangat impresif dan pastoral. Puisi yang cukup padat menggunakan
kata-kata, ditutup dengan sebaris kalimat: Sepi
juga pada akhirnya ton.
Kesepian yang paling ekstrem ketika Syaiful Bachri (Ipong
SB) saat membaca puisi terbarunya “Maka
Sepi”. Siang memberi sepi/hingga
kata-kata berhenti/tidak pada titk atau koma/Hanya pada satu isyarat
takdir...//
Puisi yang dibacakan Syaiful Bachri ini didedikasikan
untuk sahabatnya Asriel Chaniago, sutradara teater Kembara yang telah
mendahuluinya kembali kepada Tuhan Sang Maha Pencipta pada bulan Agustus 2016
lalu. Siang dan malam/Adalah hari-hari
rebah/Di tepian waktu/Menyerah pada kehendak/Tuhan..//
Itu sebabnya, barangkali dalam Hari Puisi Indonesia di bulan Agustus ini
dia khususkan membacakan puisi untuk sahabat dan saudaranya itu yang pulang
menuju ke alam sunyi. Maka/sepilah
mimpi/sunyilah igau//. Sebuah kenangan yang sangat mendalam dirasakan oleh
Syaiful Bachri terhadap sahabatnya tersirat dalam puisinya.
Kenangan dan kesepian sepertinya akrab dalam dunia puisi, sebagaimana dirasakan pada puisi Sudarto Marelo yang berjudul “Kenangan”. Judul dengan isi puisi tersebut begitu terkait kuat: Kawan!/cerita itu telah lama tersembunyi/mungkin
dirimu tak akan pernah ingat/ketika kita bersama melewati kota demi kota/hanya
untuk sekedar menikmati sapaan malam.../
Puisi Sudarto Marelo ini jelas tertuju kepada seorang kawan yang
tersembunyi di dalam hatinya. Dari sekian banyak kawan yang dimiliki Sudarto
Marelo, tapi untuk siapa sesungguhnya puisi ini ditujukan, maka dia yang lebih
tahu. Pada akhirnya Sudarto dalam kesendirian meski hanya dikawani dengan
bayangan:...namun bayangmu tak juga
jauh//.
Linny Oktovianny dalam puisinya “Di Tempat Tak Bernama” lebih menegaskan
lagi tentang kesunyian sebagai subjek aku lirik: Aku adalah sunyi/di tempat tak bernama/sebelum memilikimu/mengisi
waktu-waktu tanpa bunyi
Kesunyian atau kesepian ditandai pula dengan sesuatu yang hampa bagi Iman
Handiman dalam puisinya berjudul “Kosong”. Hal itu di gambarkan Iman Handiman
dalam suasana ramai dan hiruk-pikuk sekali pun, namun di dalamnya sesungguhnya
ada kesenyapan: ada tawa dan sorak sorai
untuk kemenangan/semua perasaan dilepaskan/kekalahan hidup ditanggalkan/cahaya
berpendar mengawang/tapi sesaat habis dan kosong/kembali gelap/kembali
senyap/habis/kosong/untuk kemenangan/tanpa kemenangan.
Tarech
Rasyid ingin mengemukakan dengan nada protesnya bahwa koruptor sebagai biang keladi rakyat
hidup sengsara ternyata hadir di mana-mana. Dia ada di sekolah, di perusahaan,
di rumah sakit, di universitas, dan lain-lain. Puisi protes sosial juga muncul ketika
Indah Rizky Ariany membacakan puisi “Merdeka Dua Kali” yang isinya begitu satir
terhadap situasi saat ini.
Lain
halnya pada puisi yang dibacakan Anto
Narasoma yang juga dikenal sebagai jurnalis ini. Puisi berjudul “Mata
Pedang” sebagai simbol yang dipakai para
penderes di kebun karet: jika mata
pedang/melihat kejujuran/tak ada api dendam/membakar kemarahan/dari matanya
yang/panjang dan lidah menjulur di kedua arah/menjilati pepohonan karet/dengan
pecikan air getah di seputar dendam/di hati manusia/. Puisi Anto ini begitu
artifisial, sehingga agak samar untuk bisa mencerna puisi ini. Pendekatan
asosiasi yang digunakan agak kurang pas untuk menyatakan adanya pendindasan di
kalangan perkebunan karet.
Rita Sumarni dan Linny Oktovianny |
Di
sisi lain JJ. Polong yang selalu menulis puisi beraroma romantis ini
mengungkapkan suasana hatinya dengan puisi berjudul “Cinta Ini Liana di Tepi
Jalan”. Jangang kau sesali jika cinta
ini/tumbuh bagai liana di tepi jalan/merambat dan menjalar ke mana-mana/jangan
pula kau bertama siapa yang menanamnya/karena dia tumbuh senndiri/dari benih
yang tersimpan di hati kita//. Sebagaimana ungkap Syaiful Bachri “menyerah
pada kehendak/ Tuhan” maka rasa dan kedatangan cita tak bisa dihalangi. Takdir
dan cinta adalah milik Tuhan.
Suasana
berbeda dengan JJ. Polong ditampilkan pada puisi “Keterasingan” Rita Sumarni
yang dibacakannya begitu sangat menyentuh: Aku
bagai orang asing di istana hatimu/Euforia kemarin lusa seakan sudah
lenyap/ditelan bumi.../ Hubungan
yang sia-sia diaraskan oleh Rita Sumarni. Sungguh menyakitkan memang menjadi
orang terasing ketika jalan hati tersputus: Andaikata
dinding waktu bisa bicara/Mungkin dia akan ingatkan/Di mana terakhir kau
bersamaku// (anwar p bayu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar