03 September 2008

Wiranata Prahara Ilahi

Mengaku Belajar Puisi dari Anwar Putra Bayu

Wiranata Prahara Ilahi, siswa kelas dua Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 8 Palembang, berperawakan kecil saja. Tapi dia sukses meraih juara pertama Lomba Cipta Puisi Anak-Anak Tahun 2008 tingkat nasional, yang berlangsung di Istana Kepresidenan Cipanas, Jawa Barat, Minggu, 24 Agustus 2008. Ketika Putu Wijaya sebagai ketua dewan juri menyebut namanya, Wiranata langsung berdiri dari duduknya dan berlari kecil kedepan panggung. Nampak jelas kegembiraan diraut wajah dan tingkahnya. Tingkah seorang anak yang beranjak dewasa.

“ Saya tak menyangka bisa meraih juara ini. Apalagi tiba dari Palembang hari Sabtu, langsung bertanding hari Minggu. Badan masih lelah, pegal-pegal. Tapi karena membawa nama daerah, saya semangat lagi,” kata Wiranata.

Semangat itu akhirnya memang membawa hasil. Setelah bersaing dengan puluhan siswa dari 33 propinsi, Wiranata akhirnya bisa meraih juara pertama. "Ssaya sangat senang. Apalagi langsung bertemu Presiden SBY dan Ibu Ani serta diberi hadiah dan tabungan pendidikan. Syukur Allhamdulillah,” ujar putra pasangan Syamsuddin dan Henny Wastin ini.

Pusinya yang meraih juara berjudul Garudaku Terbang ke Awan, adalah karya puisi terbaik berdasarkan penilaian tim juri yang sangat orisinil. ”Saya menulis puisi ini karena kondisi Indonesia yang hutannya habis ditebangi orang tak bertanggung jawab,” tambahnya, yang mengaku belajar puisi dari Anwar Putra Bayu, penyair senior di Sumatera Selatan.

Berbagai prestasi telah diraih Wiranata dalam lomba cipta puisi, sebelum berlomba di Cipanas. Puisinya yang berjudul Bunga Itupun Menjerit meraih juara pertama pada Festival Seni Siswa Tingkat Nasional di Palembang. ”Sejak sekolah dasar saya mulai senang buat puisi. Saat ini ada sekitar 38 puisi yang telah saya tulis, sebagian telah dimuat di koran daerah,” ujar Wiranata.

Lomba Lukis dan Cipta Puisi Anak-Anak Tingkat Nasional dilaksanakan pertama kali tahun 2006, adalah ide dari Presiden SBY untuk mewujudkan tiga pilar yang diperlukan dalam kehidupan manusia, yaitu logika, etika dan estetika.

Untuk para pemenang, panitia menyediakan piala dan piagam dari Presiden SBY, ditambah tabungan. Juara pertama mendapat Rp. 10 juta, juara dua Rp. 8 juta, dan juara tiga Rp. 7 Juta. Sementara tiga juara harapan masing-masing mendapat tabungan Rp. 6 juta, Rp. 5 juta dan Rp. 4 juta.

Para juuri terdiri dari para seniman yang sudah tidak asing lagi, antara lain Putu Wijaya, Sapardi Djoko Damono, Sujiwo Tedjo, Taufik Ismail, Sony Farid, Gilang Cempaka, Setiawan Sabana, Ayuningsih, Watie Maerany dan Heyi Ma’mun. (win)

Sumber:http://www.presidensby.info

2 komentar:

timur matahari mengatakan...

salam...
bertandanglah ketempatku
ada kopi hangat dan goreng ubi
menjelma dalam kata
salam lagi'
saya juga ingin berguru

Anonim mengatakan...

sepertinya akan lebih menarik apabila dicantumkan pula daftar atau biodata masing-masing peserta FL2SN tingkat nasional...