11 Agustus 2008

Kecendrungan Dunia Penulisan Dewasa Ini

Hamsad Rangkuti/

Karya sastra, seni pada umumnya, adalah dunia angan-angan yang kreatif, hasil dari kemampuan pikiran untuk mengadakan sesuatu yang baru, yang di dalamnya diperlukan fantasi. Kekuatan sastra bukan karena memapar realitas dengan tepat tetapi menggambarkan dunia yang tidak nyata begitu rupa hingga kelihatan seperti nyata. Sastra merupakan sebuah cermin masyarakat.

Kalau kita amati tema garapan para penulis dewasa ini terasa kreativitas yang disuguhkan menjelajah tokoh-tokoh yang muncul dengan permasalahan yang beragam di kota-kota besar cukup bervariasi. Karya-karya yang digarap, terutama prosa menyuguhkan penggambaran fisik dan sifat tokoh yang tinggal di kota-kota besar. Perkembangan watak tokoh dan alasan/dasar perkembangan watak tersebut tak lepas dari hubungan antarkejadian, konflik, tegangan dan kejutan hingga klimaks.Tempat/ruang dan waktu terjadinya peristiwa yang melibatkan para tokoh sangat diperhitungkan. Misalnya bagaimana mereka memperhitungkan kesesuaian latar dengan tuntutan cerita, dan kegunaan latar bagi penggambaran tokoh.

Bahasa yang digunakan, terutama bagi penulis-penulis muda sangat berindah-indah dan ada kecendrungan mereka bergulat pada kata-kata tanpa mengusung tema. Terkadang terasa mereka bermain-main saja dengan bumbu kata-kata karena menurut saya mereka tidak bisa bercerita. Tidak bisa membuat cerita. Bila kita perhatikan dalam mereka bergulat menyuguhkan permainan kata-kata, tema-tema yang diusung akrobatik kata-kata itu adalah tema-tema para penulis pemula. Sebagian besar hampir dikuasai corak bahasa kota-kota besar, walau demikian tidak terlepas dari ketepatan pemilihan kata dan kalimat bagi penyajian cerita, kegunaan pemakaian kata dan kalimat bagi pengembangan tokoh, alur, dan latar cerita, juga keterbacaan bagi kelompok pembaca yang luas.

Demikian pula kreativitas mereka yang khas. Hampir semua mereka berusaha membiarkan kemampuan menemukan dan mengembangkan gagasan yang baru atau khas dengan cara penyampaian yang baru atau khas pula. Malah mereka tak ragu-ragu kalau kreativitas itu keluar dari kebiasaan kehidupan. Walau demikian mereka tetap memperhatikan kesesuaian sudut pandang, cara melihat gagasan dan pengungkapan dengan kelompok pembaca yang beragam. Kegunaan gagasan dan cara pengungkapan yang baru atau khas bagi pengembangan tokoh, alur, dan latar cerita. Demikianlah mereka mencari hal-hal yang menjadi tonggak penilaian.

Di kehidupan kita sekarang ini budaya baru menjejali kita. Didominasi centang-perenang tiruan keadaan yang dapat dilihat. Kita dihidupi dan menghidupi dunia penglihatan dari yang disodorkan ke hadapan kita. Halaman koran dan majalah, televisi, keping vcd, dvd, papan iklan yang bertebar di pinggir jalan, handphone, internet dan sebagainya, membanjiri kehidupan kita hingga ke pojok paling terpencil, mengepung setiap individu di semua lapisan sosial.

Semua perangkat itu merajalela di zaman reformasi ini dan membuka keran penyalur bagi sebagian pekerja di bidang produksi budaya. Suatu generasi penulis mengikuti kurun waktu reformasi itu, munculnya para penulis yang segera menyedot perhatian. Karya-karya generasi penulis perempuan berlatar kelas menengah menawarkan pandangan atas krisis yang sedang terjadi. Kebebasan baru yang dihembuskan perubahan secara drastis untuk perbaikan itu, muncullah para reformis di bidang penulis-penulis ini menawarkan sudut pandang jenis kelamin yang secara problematis menjadi bingkai baru; menurut mereka. Padahal apa yang mereka suguhkan, keberanian membuka selangkang kaum para penulis perempuan itu sudah dilakukan para penulis pria di zaman jauh sebelum mereka merasa bebas menyuguhkannya. Terutama milik pribadi yang tersembunyi itu. Pernah saya mendengar ucapan sinis seorang teman; modal mereka hanya keberaian menuliskan apa yang mereka lihat di dalam cermin saat mereka melepas semua penutup tubuh. Bedanya barangkali kalau dulu yang mengungkapkan kaum penulis pria, yang menggambarkannya dari imajinasi, sekarang pemilik tubuh itu, kaum penulis perempuan itu cukup menuliskan apa yang mereka pandang di cermin. Sebab kaum penulis perempuan itu sangat akrab dengan apa yang ingin mereka suguhkan: abaikan norma.

Banyak di antara penulis ini adalah orang kota yang bergelut setiap harinya dalam hingar-bingar gaya hidup urban yang terkekang dalam karya-karya mereka.

Kemudian muncullah warna baru yang menyita perhatian sebagai penulis di era reformasi akhir-akhir ini. Masalah etnisitas cukup gencar dipersoalkan dalam karya-karya bersetting kampung/daerah, sejak berlakunya otonomi daerah. Karya-karya etnisitas, budaya dan sejarah lokal mulai bermunculan. Digarap secara serius oleh mereka, dan merupakan kebanggaan kedaerahan. Berbagai macam unsur khas budaya etnis seperti kepercayaan dan upacara, dan mitos.

Mungkin jemu dijejali cerita-cerita yang mengarah ke kota-kota besar, para sastrawan kembali mengakrabi sub-kulturnya masing-masing. Para sastrawan memberikan kultur daerahnya. Kultur daerah ini memberi kebetahan batin dan menimbulkan rangsangan kreatif. Kultur lokal atau tradisi daerah sangat dikenal dan diakrabi mereka di mana mereka dilahirkan dan dibesarkan. Warna lokal atau tradisi, kultur setempat, mitos-mitos, menjadi acuan dalam karya-karya mereka yang menjamur.

Perkembangan karya-karya sastra dewasa ini diperkaya mereka dengan menggarap kultur dan tradisi daerah. Masuknya kembali pada kultur dan tradisi daerah mendapat tempat setelah datangnya era reformasi dan maraknya otonomi daerah.

Otonomi daerah membakar mereka untuk menjadikan semua harus dari daerah. Termasuk garapan kultur dan tradisi daerah pun mendapat tempat.

Barangkali itulah yang terjadi dalam perkembangan penulisan dewasa ini. Kalau saya keliru, maafkan!

Tulisan ini pernah disajikan pada pertemuan sastrawan Sumatera Utara di Medan, 28 – 30 Desember 2007.

27 Juli 2008

Catatan Temu Sastrawan Indonesia, Jambi (3-Habis)

Kasus lain juga pernah menimpa cerpenis asal Palembang, Purhendi ketika cerpennya berjudul Perempuan di dalam Masjid, yang dimuat harian umum BeritaPagi, 27 Agustus 2006 sempat membuat cemas penulisnya lantaran penulisnya mendapat reaksi melalui sms, surat pembaca, dan telepon dari pembaca. Ketika itu Puherndi hanya bisa menghubungi beberapa person untuk meminta pendapat. Dalam konteks itu, maka wadah yang mengelola persoalan advokasi untuk sastrawan sangat dimungkinkan ketika para pelaku sastra, seperti Saeful Badar dan Purhendi jika mendapat hal-hal yang tak diinginkan. Kendati advokasi secara formal dapat ditangani pengacara..

Di luar komunitas sastrawan, kasus yang menimpa pelukis asal Palembang, Eden Ariffin mengenai hasil ciptaannya melalui sayembara berupa lukisan Sultan Mahmud Badaruddin II, bisa dijadikan contoh yang sangat signifikan. Manakala Eden Ariffin menggugat Bank Indonesia soal royalti lantaran hasil ciptaannya dijadikan gambar uang sepuluh ribu rupiah. Kasus Eden itu memang terasa tidak ada advokasi dari para pelukis atau organisasi seni rupa yang menanganinya.

Padahal menurut Prof. Dr. Abdul Bari Azed, Guru Besar FHUI, Sekjen Departemen Hukum dan HAMRI ini, seorang pecipta (seniman) memiliki “Hak Ekonomi” yang berhubungan dengan karya ciptanya, yakni hak untuk mengumumkan, memperbanyak, memberi izin untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya. Hak Ekonomi ini dapat dialihkan kepada orang atau badan hukum. Hak ekonomi ini dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaan serta “Produk Hak Terkait”.

Di sisi lain, Fadillah seorang Dosen dan Peneliti Sastra dari Universitas Andalas Padang ini memandang advokasi dalam relasi sastra apabila terjadi penindasan terhadap dunia sastra oleh pemerintah atau penguasa, maka ada empat aspek yang ditindas; pertama karya, kedua pengarang, ketiga kritikus, keempat pencinta atau pembaca karya sastra.

Menurutnya, bentuk penindasan terhadap karya biasanya terjadi pelarangan atau pembakaran karya sastra. Kedua adalah dipenjarakan atau dijatuhi hukuman mati terhadap pengarang, Begitu juga kritikus, yakni dipenjara atau dihukum mati. Sedangkan pembaca, dilarang membaca, dipenjarakan atau dijatuhi hukuman mati.

Dari topik-topik yang disajikan dalam Musyawarah Temu Sastrwan Indonesia itu seperti Pecapaian estetika Sastra Indonesia, Pengajaran Sastra Indonesia, dan Tradisi Kritik Sastra Indonesia bukanlah isu baru bagi para peserta.

Kritik Sastra Indonesia misalnya, masih dalam sorotan negatif ketika Hary S Harjono, Maizar Karim maupun Ahda Imran saat menyampaikan berbagai pandangan mereka. Itu sebabnya, Afrizal Malna yang juga mengusung persoalan kritik agak ragu bahwa kritik sastra Indonesia itu ada, dalam pengertian kritik sastra tidak dalam perbincangan apa yang sudah disampaikan oleh Hary S Harjono, dan lain-lain.

Afrizal tampak memiliki pandangan lain yang pada gilirannya mempertanyakan apakah kita memerlukan kritik sastra, agar pembaca mengerti sastra atau dengan kata lain apakah pembaca itu memerlukan mata krtikus untuk membaca karya sastra? Malahan kenyataan yang berkembang menurut Afrizal bahwa saat ini kritik sastra sudah diambil alih oleh lembaga-lembaga sayembara pemberi hadiah, diambil alih oleh penerbit, diambil alih oleh redaktur budaya di media massa. Mungkin juga hal itu sebuah fenomena untuk mengatakan bahwa memang kritik sastra tidak diperlukan.

Jauh sebelumnya, menurut Afrizal Malna lagi, bahwa kritik sastra itu ada lantaran kesibukan dunia akademis. Kemudian manakala pasar tumbuh, ekonomi tumbuh, industri berkembang, mereka punya cara tersendiri dalam mengakses sastra, dan pada saat itu memang menjadi cukup penting untuk bertanya ulang, apakah kritik sastra itu memang harus ada?

Diskusi sastra yang memakan waktu dua hari memang cukup membuat para peserta untuk berbetah diri mengikuti proses berlangsungnya alur diskusi. Selain seminar, peserta juga ikut menikmati kegiatan panggung apresiasi, wisata budaya, dan pameran foto penyair. Pada akhirnya Musyawarah Temu Sastrawan Indonesia melalui tim perumus yang terdiri dari Acep Zamzam Noor, Triyanto, Kartini, Tan Loie, dan Koko P Bhairawa memandang perlu untuk meneruskan kegiatan pertemuan sastrawan berikutnya yang direncanakan di Bangka Belitung dan Palembang. Habis. /anwar putra bayu/

24 Juli 2008

Panggung Apresiasi TSI 2008

Hamsad Rangkuti tengah membacakan cerpennya

Penampilan sastra tutur pun ikut mewarnai panggung apresiasi
Diah Hadaning meski usianya sudah tua namun penyair perempuan ini masih enerjik
Tan Loie penyair dari Bali ini saat membacakan puisinya.
Selain itu ia tampil dalam musikalisasi puisi

20 Juli 2008

Catatan Temu Sastrawan Inonesia, Jambi (2)

Memakan waktu tidak kurang empat hari, para peserta Temu Sastrawan Indonesia yang terdiri dari cerpenis, novelis, dan penyair mengondisikan diri guna mengikuti menu acara yang disajikan panitia pelaksana, sejak dibuka oleh Staf Ahli Gubernur.

Dialog dan Musyawarah Sastrawan Indonesi, misalnya, merupakan salah satu agenda kegiatan yang penting. Dialog dan musyawarah ini setidaknya telah menyentuh apa yang sudah diplot oleh panitia. Salah satunya, yakni membicarakan adanya kemungkinan dibentuknya wadah atau forum bersama yang melibatkan “Ekologi Sastra” ( yang merupakan tempat berkumpulnya: sastrawan, kritikus, media, dan penerbit). Tentunya harus melampaui proses dialogis. Forum dialog dan musyawarah ini meyepakati adanya sebuah wadah advokasi sastrawan. Jauh sebelumnya, ada usulan-usulan yang ditawarkan peserta, seperti membentuk semacam badan yayasan, komunitas, dan aliansi. Akan tetapi, banyak pula para peserta memandang bahwa yayasan maupun komunitas akan menjelmakan “kultus” baru, seperti yang dilontarkan oleh Isbedy Stiawan ZS, penyair asal Lampung itu.

Untuk apa organisasi sastrawan? Pertanyaan itu pula yang sempat terungkap oleh Sosiawan Leak, penyair asal Solo, Jawa Tengah, di sela-sela sarapan pagi. Pertanyaan Leak itu, agaknya terwakili ketika Acep Zamzam Noor tampil sebagai narasumber di hari ketiga bersama Abdul Bari Azed, Guru Besar FHUI. Dengan nada yang sama Acep Zamzam Noor mengajukan pertanyaan dalam makalahnya “Wadah Sastrawan Indonesia, perlukah?”

Acep menyontohkan kasus penyair Saeful Badar, ketika puisinya yang berjudul “Malaikat” yang dimuat di rubrik budaya Pikiran Rakyat mendapat reaksi sangat keras dari sejumlah Organisasi Massa (Ormas) Islam di Jawa Barat karena dianggap telah melecehkan agama. Dalam hal ini, puisi itu sepertinya mengolok-olok malaikat yang dianggap suci oleh umat Islam. Ormas-ormas itu bukan hanya menteror Pikiran Rakyat melalui telepon, sms, maupun faksimile, bahkan di halaman pertama, esok harinya dimuat juga penyataan resmi ormas-ormas Islam yang mengutuk puisi karya Saeful Badar itu. Beberapa hari kemudian Rahim Asyik, Redaktur Budaya yang memuat puisi tersebut, diberhentikan dari kedudukannya sebagai redaktur budaya.

Bertolak dari pengalaman Saeful Badar yang sempat menghebohkan itu, kemudian menurut Acep Zamzam Noor, banyak temannya sesama sastrawan kemudian berpikir tentang pentingnya organisasi profesi bagi para sastrawan, seperti yang sudah dilakukan oleh profesi-profesi lain di Indonesia. Kawan Acep menyebut dokter, insinyur, pengusaha, advokat, guru, paranormal, atlit, pengamen, pengemis, preman, satpam, dan lain-lain yang sudah membentuk organisasi atau wadah bagi profesi mereka. ”Lalu fungsinya untuk apa?” tanya Acep Zamzam Nooor.

Jika dicermati lagi, di berbagai daerah tumbuh menjamur organisasi atau wadah-wadah sastrawan, yang pada gilirannya organisasi atau wadah-wadah itu tinggal papan nama saja karena tidak bisa menjalankan fungsinya secara baik. Pertanyaan Acep Zamzam Noor tentang ”fungsi Organisasi” cukup menggelitik, terlepas pilihan wadah maupun bentuknya.

Kasus lain juga pernah menimpa cerpenis asal Palembang, Purhendi ketika cerpennya berjudul Perempuan di dalam Masjid, yang dimuat harian umum BeritaPagi, 27 Agustus 2006 sempat membuat cemas penulisnya lantaran penulisnya mendapat reaksi melalui sms, surat pembaca, dan telepon dari pembaca. Ketika itu Puherndi hanya bisa menghubungi beberapa person untuk meminta pendapat. Dalam konteks itu, maka wadah yang mengelola persoalan advokasi untuk sastrawan sangat dimungkinkan ketika para pelaku sastra, seperti Saeful Badar dan Purhendi jika mendapat hal-hal yang tak diinginkan. Kendati advokasi secara formal dapat ditangani pengacara..

Di luar komunitas sastrawan, kasus yang menimpa pelukis asal Palembang, Eden Ariffin mengenai hasil ciptaannya berupa lukisan Sultan Mahmud Badaruddin II, bisa dijadikan contoh yang sangat signifikan. Manakala Eden Ariffin menggugat Bank Indonesia soal royalti lantaran hasil ciptaannya dijadikan gambar uang sepuluh ribu rupiah, memang terasa tidak ada advokasi dari para pelukis atau organisasi seni rupa yang melakukan advokasi.

Padahal menurut Prof. Dr. Abdul Bari Azed, Guru Besar FHUI, Sekjen Departemen Hukum dan HAMRI ini, seorang pecipta (seniman) memiliki “Hak Ekonomi” yang berhubungan dengan karya ciptanya, yakni hak untuk mengumumkan, memperbanyak, memberi izin untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya. Hak Ekonomi ini dapat dialihkan kepada orang atau badan hukum. Hak ekonomi ini dimaksudkan untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaan serta “Produk Hak Terkait” /anwarputrabayu/

18 Juli 2008

Menghilir di Sungai Batanghari Menuju Candi

Irmansyah dan Naba dalam perahu ketek, sebuah perjalanan...Yess!
Kata Naba, Om Hary B Khoirun tertidur atau sedang mencari ide untuk novel barunya
Purhendi dan Hamsad Rangkuti menikmati angin semilir di Sungai Batanghari
Naba memandang ke depan dari depan perahu ketek
Perahu Ketek menuju candi Muaro Jambi yang akan melewati jembatan gantung

17 Juli 2008

Muaro Jambi dalam gambar

Naba dan Hary B Khoirun di atas candi sedang semedhi
Tomo (anak dari EM. Yogisawra) dan Naba (anak dari Anwar PB)
Anwar P Bayu, Suyadi San, Sunlie, dan Hamsad Rangkuti

Thomson HS, Koko P Bhairawa, Marhalim Zaini, Jajang R Kawentar, Naba, Sunlie T Alexander, Miyoko, Tomo Irmansyah, dan Yogiswara foto bersama di area candi Muaro Jambi