30 Oktober 2008

Di antara Angin dan Rasa Dingin

Anwar Putra Bayu

Senja kemarin kita berjalan terpisah

tidak seperti angin dan rasa dingin.

Saat ini ciuman dan birahi yang merasuki diri kita

kita tegak lurus di dalam pintu rahim.

Kembali kepadamu saat ini sangat memungkinkan

karena ruhku sedang terbakar.

Apa? Kauingin mengetahui apa yang sedang ingin kukatakan.

kaumemang selalu menggiurkan setiapkali kuingin menjangkaumu

dan hatiku penuh kautanami kembang

bermandi sebelum senja.

Kaubiarkan Itu tetap bertahan

sebelum kita memang terpisah

di antara angin dan rasa dingin

Kemarin senja segenap keriangan

dan tawa-tawa kecil

kita buka pintu

berjalan tanpa terpisah

Hah? Sebuah cinta telah menunggu kita sejak lama

Ah, kita membuat diri bertambah malu.


2008


0 komentar: